Artikel - Orang Terkaya
Posted by: “Danar Listiawan” danar.listiawan@gmail.com mr_danar
Sun Sep 23, 2007 7:44 pm (PST)
ORANG TERKAYA
Oleh : Andreas harefa
Belum lama ini saya menemukan sebuah fakta menarik di sekolah kehidupan Indonesia. Faktanya mengatakan bahwa orang-orang yang paling kaya di negeri ini ternyata bukanlah mereka yang suka berbicara tentang cara-cara cepat menjadi kaya. Dan mereka yang sering beriklan di media massa menawarkan gagasan-gagasan brilian untuk menjadi kaya, ternyata tidak satu pun yang termasuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia.
Fakta ini diumumkan oleh Executive Chairman of *Globe Asia* Rizal Ramli, dan sebagian dilaporkan oleh Harian *Kompas*, 31 Juli 2007, halaman 17. Isinya tentang 150 orang terkaya di Indonesia, dan kekayaan pejabat publik, pengusaha yang jadi pejabat publik, di luar daftar 150 orang terkaya.
Dalam daftar pengusaha yang jadi pejabat publik, dua nama teratas adalah Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo, dengan kekayaan 16,6 juta dollar AS, disusul Fahmi Idris, Menteri Perindustrian saat ini. Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki kekayaan 516.000 dollar AS atau Rp 4,6 miliar per tahun 2004.
Salinan daftar yang dimuat *Kompas* adalah sebagai berikut:
*Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia *
*Posisi † Nama † Umur † Perusahaan † Kekayaan
1.Budi Hartono, 66 tahun, Djarum, Rp 37,8 triliun
2. Rachman Halim, 60 tahun, Gudang Garam, Rp 31,5 triliun
3. Eka Tjipta Widjaja, 84 tahun, Sinar Mas, Rp 27,9 triliun
4. Sudono Salim, 92 tahun, Salim Group, Rp 25,2 triliun
5. Putera Sampoerna, 59 tahun, Sampoerna, Rp 19,8 triliun
6. Sukanto Tanoto, 57 tahun, Raja Garuda Group, Rp 11,7 triliun
7. Eddy William Katuari, 56 tahun, Wings Group, Rp 9,90 triliun
8. Aburizal Bakrie, 60 tahun, Bakrie Group, Rp 9,45 triliun
9. Arifin Panigoro, 62 tahun, Medco Energy, Rp 8,10 triliun
10. Hary Tanoesoedibjo, 42 tahun, Global MediaCom, Rp 7,70 triliun
*Nama-nama lain yang disebutkan dalam Daftar 150*
Sultan Hamengku Buwono, Rp 1,20 triliun
M. Jusuf Kalla, Rp 1,10 triliun
Chaerul Tanjung, 45 tahun, Para Group
Rachmat Gobel, 45 tahun, Gobel International
Sandiaga Uno, 38 tahun, Saratoga Capital
Benjamin Jiaravanon, 36 tahun, CP Indonesia
Memikirkan nama-nama orang terkaya yang muncul dalam daftar di atas, dikaitkan dengan maraknya seminar-seminar tentang ilmu menjadi kaya di Indonesia satu dekade terakhir, saya mencoba menarik sejumlah pelajaran untuk diri sendiri.
*Pertama*, jalur menuju daftar orang terkaya agaknya memang dunia usaha, dunia bisnis, dunia perdagangan dalam arti luas. Para pejabat publik yang kaya raya pun kita temukan adalah mereka yang datang dari dunia usaha, bukan pegawai negeri yang merintis karier dari bawah, bukan pula kaum profesional dengan keahlian spesifik di bidang tertentu di luar dunia usaha. Dengan demikian, jika menjadi kaya adalah tujuan yang dianggap paling bermakna dalam hidup, maka pilihan untuk berkiprah dalam dunia usaha adalah pilihan yang masuk akal.
Orang-orang yang mengajarkan tentang ilmu menjadi kaya, ternyata tidak datang dari kelompok yang paling kaya. Mereka datang dari kelompok yang sedang berusaha menjadi lebih kaya, dari kelas menengah yang memiliki ambisi luar biasa. Mungkin ini juga bisa diartikan bahwa orang tidak bisa menjadi sungguh-sungguh kaya dengan mengandalkan keterampilan berbicara saja.
“Bisnis bicara” tidak membuat orang menjadi yang terkaya di negaranya. Bahkan “bisnis bicara” oleh sebagian kalangan tidak dianggap bisnis dalam arti sesungguhnya. Hanya jika “bisnis bicara” dilengkapi dan dilanjutkan dengan kegiatan usaha dalam skala industri atau konglomerasi tertentu (tembakau, *consumer goods*, properti, pertanian, pertambangan, media, dsb), maka posisi terkaya dimungkinkan untuk diraih.
*Ketiga*, kelompok masyarakat yang masuk dalam daftar orang terkaya tidak suka berbicara tentang cara-cara cepat menjadi kaya. Sebagian malah kita dapatkan sebagai orang-orang yang tidak fasih berbicara, atau setidaknya suka menghindari kesempatan untuk berbicara di muka umum. Dalam arti tertentu mereka mungkin memang menganggap kemampuan berbicara tidak relevan dengan ambisi mereka untuk berhasil dalam usaha yang ditekuninya. Bahkan ada yang menduga orang-orang kaya tak banyak berbicara untuk publisitas karena publisitas sering membuat mereka mendapatkan masalah. Karena itu, mereka lebih suka membayar pihak tertentu, kaum profesional, untuk berbicara untuk dan atas nama mereka.
*Keempat*, soal pencitraan dalam masyarakat. Sungguh menarik bahwa mereka yang masuk dalam daftar orang terkaya itu bukanlah orang-orang yang dicitrakan kaya raya oleh media massa. Sebagian malah berusaha untuk tidak dikenal sebagai orang kaya raya, dengan alasannya masing-masing. Sementara orang-orang tertentu yang rajin berbicara soal ilmu menjadi kaya, justru terkesan berupaya keras mencitrakan diri mereka sebagai orang yang sungguh-sungguh kaya dalam pandangan masyarakat. Yang terakhir ini memanfaatkan publisitas media massa untuk membangun citra tersebut. Dan dengan citra semacam itulah mereka menarik keuntungan untuk memperkaya dirinya.
Empat pelajaran di atas membuat saya teringat pada pemikiran Stephen Covey mengenai *character ethics* dan *personality ethics*. Menurut Covey, sejak Amerika menyatakan kemerdekaannya di tahun 1776, ajaran-ajaran yang berkembang dalam masyarakat utamanya bertumpu pada pentingnya pengembangan karakter (kerja keras, antusias, tulus, rendah hati, tekun, dsb) untuk meraih sukses. Hal ini berjalan sampai 150 tahun. Lalu, di pertengahan tahun 1920-an, dan hampir bersamaan dengan terjadinya masa depresi besar, berkembanglah ajaran-ajaran yang mengutamakan teknik-teknik *human relations* dan *public relations*, serta *positive mental attitude*. Pada masa itulah soal-soal pencitraan, yakni *personality ethics*, menjadi lebih didahulukan ketimbang karakter yang sesungguhnya. Ajaran-ajaran mengenai ilmu menjadi kaya dalam waktu cepat tumbuh menjamur, menjadi semacam “hiburan” atau
¡§candu¡¨ bagi masyarakat yang didera penderitaan karena kemiskinan di mana-mana.
Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah Indonesia sedang berada pada era seperti Amerika tahun 1920-an itu?
4b. Re: [katgama] Artikel - Orang Terkaya
Posted by: “Alfred Alinazar” aalinazar@gmail.com bank_al
Sun Sep 23, 2007 8:07 pm (PST)
Kalau aku nggak salah dengar, seminar-seminar tentang bagaimana menjadi kaya bahkan robek kaoskaki ini juga cuma populer di negara-negara asia saja. Dan tidak begitu populer di negaranya. Apakah betul demikian ?
Memang sih kalau dipikir2 orang2 Indonesia memang sangat ingin menjadi kaya karena mungkin sebagian besar dari mereka selama hidupnya melarat. Bener atau ndak, aku juga ndak tahu.
Btw, amerika sekarang seperti apa ? apakah masih lanjutan dari tahun 1920 ? atau sudah kembali lagi ke pengembangan karakter seperti tahun 1776?
salam,
-bank al-
4c. Re: Artikel - Orang Terkaya
Posted by: “Sribudi Astuti” toeti_yk@yahoo.com toeti_yk
Mon Sep 24, 2007 1:16 am (PST)
sepanjang yang aku liat, yang suka berteriak tentang cara-cara atau kiat menjadi kaya itu orang yang bergelut di MLM, orang yang punya mimpi besar tanpa harus kerja berat. dan mereka umumnya berpakaian lebih necis dari orang-orang yang benar-benar kaya, buat nutupi aslinya kalee yach
Messages in this topic (6)
4d. Re: [katgama] Artikel - Orang Terkaya
Posted by: “Danar Listiawan” danar.listiawan@gmail.com mr_danar
Mon Sep 24, 2007 2:34 am (PST)
> Kalau aku nggak salah dengar, seminar-seminar tentang bagaimana menjadi kaya bahkan robek kaoskaki ini juga cuma populer di negara-negara asia saja. Dan tidak begitu populer di negaranya. Apakah betul demikian ?
# yg sy denger pun demikian, robek kaoskaki populer hanya di asia (apa karena dia keturunan asia?) sedang di negaranya sendiri kurang begitu populer. Kalah jauh populer dr oprah, dan tdk pernah masuk dlm rangking 100 orang terkaya di amerika.
Artinya secara finansial sebenarnya dia adalah ‘biasa-biasa’ saja.
Begitu juga dg TDW (tung desem w) di indonesia, kendatipun dia mengklaim telah mencapai kebebasan financial tp kenyataannya namanya tdk pernah muncul sekalipun dalam urutan 300 org terkaya di indonesia
Brgds,
Danar
Messages in this topic (6)
4e. Re: [katgama] Artikel - Orang Terkaya
Posted by: “fathur” mfathur@gmail.com faturibatam
Mon Sep 24, 2007 2:51 am (PST)
[AL]
Kalau aku nggak salah dengar, seminar-seminar tentang bagaimana menjadi kaya bahkan robek kaoskaki ini juga cuma populer di negara-negara asia saja. Dan tidak begitu populer di negaranya. Apakah betul demikian ?
[FT]
Kalau yang kubaca dari 9 bukunya pak robek kaoskaki, intinya sih bagaimana menciptakan cashflow yang positif. Mau karyawan kek, buka toko kek, buka perusahaan kek, ikut MLM kek, deposito, main saham, valas kek, gak peduli ini hanya sebuah cara. Ini juga sama dengan yang ditulis safir senduk dimana-mana. Pada akhirnya sih kupikir kembali pada diri sendiri, pengendalian diri. Puasa. Pd kenyataanya, pengamatan sepihak sih, orang yang gajinya gede sama juga nasibnya dengan karyawan yang gajinya sedikit diatas UMR. Setiap gajian sibuk bayar utang. Di akhir bulan sibuk cari utangan. Makanya pak robek kaoskaki menyarankan untuk bayar diri sendiri dulu setelah gajian, misalnya tabung dan lupakan, baru kemudian bayar utang dst.
Implementor buku pak robek sebetulnya banyak kok gak di asia tok, australi, amerika, mungkin juga eropa, bisa dilihat di http://forum.richdad.com atau yg jkt http://forum.richdad.com/forums/tm.asp?m=449710&mpage=1&p=1&tmode=9&smode=1&key=
Tentunya hukum-hukum alamiah tetep berlaku, yang berhasil lebih sedikit dari yang gagal. Tapi paling tidak orang tahu bahwa ada cara lain untuk menjadi kaya, selain yang telah diketahuinya.
rgds
fatur
http://plesmines.wordpress.com
Messages in this topic (6)
4f. Re: Artikel - Orang Terkaya
Posted by: “fathur” mfathur@gmail.com faturibatam
Mon Sep 24, 2007 3:20 am (PST)
Saya beberapa kali menemukan pegiat MLM yang benar-benar sukses. Kebanyakan mereka sangat humble. Bahkan terkesan apa adanya.
Hebatnya lagi mereka kadang memiliki latar belakang seperti kita-kita, enggak kaya. Mengapa saya katakan hebat, kalau saya ketiban rejeki seperti dia, barangkali saya sudah lupa darimana asal saya.
MLM toh hanya sebuah cara memasarkan barang. Yang prinsipnya untuk saling membantu. Idenya kan sederhana saja:”yuk kita kumpulkan uang rame-rame. kita beliin di pabrik. harganya bisa selisih 30%”. Kenapa mesti rame-rame? Gak mungkin kan beli barang ke pabrik eceran. Apalagi kebutuhan sehari-hari. Jadi beda antara “butuh” dan “nafsu”.
Dulu waktu sistem waralaba baru dimulai, gak sedikit yang mencemooh bahkan mungkin mengeluarkan fatwa haram. Sekarang? Sedikit-sedikit diwaralabakan.
rgds
fatur
http://plesmines.wordpress.com